Teknik Mengambil Alih – Protokol Ke VI

Melanjutkan pembahasan kami mengenai The Protocol of Zion. Kali ini kami akan mebahas Protokol VI : Teknik Mengambil Alih. Bagi anda yang baru saja bergabung untuk menyelami The Protokol of Zion, akan lebih baik untuk memulai penelaahan dari Protokol I-V yang telah kami bahas di dalam website ini. Well, langsung saja yah!

Kita harus mampu mengatur penimbunan kekayaan yang amat besar yang dimiliki oleh orang-orang non-yahudi. Administrasinya harus dapat mengikis habis kekayaan itu secara berangsur-angsur. Kita harus menggunakan segala cara agar Lembaga pemerintah Internasional (saat ini : PBB, IMF, World Bank) memiliki daya polularitas yang tinggi, sehingga dikenal oleh seluruh umat manusia yang hidup di dunia ini. Diusahakan agar bangsa yang patuh kepada lembaga ini merasa memperoleh perlindungan yang terjunjung tinggi harkat bangsanya.

Ilusi Globalisasi

Dulu pengambil alihan atau penguasaan negara-negara dilakukan dengan cara perang fisik. Namun dengan bekembangnya cara berpikir manusia saat ini, kini Elite Global merubah strategi itu dengan dalih “Globalisasi”. Untuk orang awam, kata Globalisasi seolah mewakili “Kemajuan” dan terkesan mendunia. Namun tahukah anda bahwa ada agenda lain di balik Globalisasi.

Image by : Anna-Karin Engberg

Globalisasi adalah perluasan dari tujuan mereka membentuk badan-badan internasiomal seperti United Nation (PBB). Membuat kebijakan internasional untuk dapat menenggelamkan kebijakan nasional suatu negara, adalah targetya. Kebijakan tersebut bersifat ilusi, dibuat seolah “melindungi” dan “menghargai” umat manusia, namun sebenarnya sangat bias dan menjerumuskan. Dengan cara inilah negara-negara akan di kendalikan sehingga langkah menuju NWO semakin dekat.

Sistem perbankan yang kita kenal saat ini sebenarnya juga merupakan usaha mereka untuk merampok umat manusia. Meski Bank terkesan memiliki kegunaan sebagai pelindung uang kita, namun sebenarnya secara terang-terangan menjalankan praktek Riba yang bertentangan dengan ajaran islam, yang pada akhirnya justru menyengsarakan para nasabah bank, produk kartu kredit misalnya.

Fasilitas yang dikeluarkan bank telah menjadi sistemik kehidupan. Sebagai misal kartu ATM, rekening yang terkait diharuskan memilik saldo minimum antara Rp 20,000 – Rp 100,000. Bayangkan, jika ada 10 juta jiwa memiliki kartu ATM, maka Miliyaran uang akan mereka keruk dari para nasabah. Yang paling terbaru adalah E Money, meski tidak ada syarat uang harus terendap, namun sudah pasti akan ada uang yang mengendap dalam E money. Baik saldo sisa yang telah di gunakan atau saldo yang akan di gunakan.

Semua perbankan di negara-negara berkiblat pada Bank Dunia (World Bank) bentukan Elite Global. Sementara uang dollar US yang menjadi mata uang tolak ukur internasional di cetak oleh Federal Reserve yang merupakan pihak swasta, kepemilikan mereka juga. Dengan menguasai ekonomi dunia, mereka akan mampu melakukan ‘pengambil alihan’. .

Penguasaan Semua Sektor

Kini segala keningratan non-Yahudi telah punah, tinggal sektor pertanian. Walaupun begitu sektor pertanian tidak boleh diabaikan. Sebab tuan tanah sendiri bisa hidup merdeka dari genggaman kita. Oleh karena itu, kita harus berjuang untuk membebaskan tanah itu dari miliknya. Barangkali cara yang tepat adalah pajak dan biaya pengolahan tanah pertanian harus menanjak. Dengan demikian, tuan tanah akan berfikir seribu kali untuk menanam lagi. Jika situasi seperti itu berjalan terus, maka mereka akan segera menjual tanah itu. Kita harus berani memberikan semangat kepada masyarakat agar senang berfoya-foya dan malas. Tindakan ini akan mengakibatkan kebangkrutan bagi perusahaan dan pabrik non-Yahudi.

Kini hampir semua sektor yang menjadi sentral kebutuhan dan kehidupan manusia telah mereka kuasai. Korporasi, media pemberitaan (alat propaganda), militer, maskapai penerbangan, perminyakan, politik internasional dan Bank telah berada pada gengaman mereka. Hanya sektor pertanian saja yang mereka belum sepenuhnya kuasai.

Mereka menganggap para pemilik tanah sebagai permasalahan yang serius. Untuk itu mereka memikirkan cara untuk dapat menambil alih penguasaan atas tanah-tanah tersebut. Dengan penguasaan mereka tehadap negara-negara, mereka bisa membuat kebijakan untuk menaikan pajak atau biaya pengolahan tanah agar para tuan tanah mendapati situasi dimana mengelola pertanian secara swadaya tidak lagi menguntungkan dikarenakan pajak yang menjulang tinggi. Dengan begitu para pemilik tanah akan cenderung berpikir menjual tanah-tanah tersebut kepada mereka.

Manufer untuk membuat masyarakat senantiasa berfoya-foya telah mereka lancarkan dan terus mereka kembangkan hingga saat ini. Ilusi menjunjung Demokrasi, Ilusi menjunjung tinggi HAM, Ilusi seni yang menjerumuskan, telah masuk kedalam jiwa kebanyakan manusia saat ini, dan bermuara kepada gaya hidup yang cenderung berfoya-foya. Targetnya agar manusia memiliki gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan.

Ilusi Inflasi

Kita harus membentuk persaingan tajam dalam perdagangan. Kita harus berani berusaha menaikkan gaji kaum buruh untuk menipu mereka. Dalam waktu yang sama kita harus menaikkan harga barang-barang pokok. Dengan dalih hasil panen mengalami penurunan. Kita harus berani mendorong kaum buruh untuk menenggak minuman keras agar produksi pabrik menurun drastis.

Ekonomi liberal adalah cara mereka untuk mewujudkan persaingan tak sehat dalam dunia perdagangan. Penguasaan mereka terhadap ekonomi suatu negara, akan membuat mereka leluasa membuat ilusi inflasi guna membuat kepanikan alias krisis ekonomi.

Sementara buruh adalah alat mereka untuk menimbulkan mosi ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah, dan instansi swasta yang belum berhasil mereka genggam. Buruh akan terus di kondisikan sebagai korban, dan di buat frustasi dalam menghadapi kondisi ekonomi personal mereka. Sementara perusaahaan akan dilema mananggapi para buruh, terkait dengan ilusi kenaikan beban produksi yang sengaja para Elite buat.


Artikel Menarik Lainnya :



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *