Pernah Dengar Sistem Ekonomi Berbasis Sumber Daya Alam?

Sistem Ekonomi Berbasis Moneter

Sadarkah anda bahwa sistem hidup kita saat ini adalah sistem berbasis uang (moneter)? Sistem ini membuat perbedaan ekonomi pada tiap individu atau kelompok tertentu terhadap yang lainya. Uang telah melahirkan elitisme, stratafikasi dan kesenjangan sosial dan rasisme dalam kehidupan kita. Singkat cerita, sistem moneter tidak akan mampu menciptakan standart hidup yang tinggi bagi tiap-tiap orang. Seseorang secara naluriah akan berkompetisi dengan yang lain untuk meningkatkan taraf hidup dengan metode mencari keuntungan (profit), dan beberapanya tidak segan untuk menikam manusia yang lain agar ia memperoleh keuntungan tersebut. Hasilnya, kesenjangan antara si kaya dan si miskin, tak pernah hilangnya kriminalitas dan sebagainya.

Tujuan Mulia kemajuan Teknologi

Saat ini teknologi dijadikan salah satu variable utama yang mencerminkan maju atau tidak nya peradaban. Teknologi merupakan buah karya dari ilmu pengetahuan suatu bangsa. Pada dasarnya teknologi mempunyai tujuan mulia yakni menciptakan kebaikan untuk seluruh manusia tanpa terkecuali. Namun fakta yang terjadi saat ini, tujuan mulia tersebut telah dialihkan untuk alasan individu demi peningkatan keuntungan (Kapitalisme). Bisa dikatakan sistem moneter menjadi penghambat kemajuan teknologi dalam menjawab kesejahteraan umat manusia.

Sistem Ekonomi Berbasis Sumber Daya Alam

Umat manusia membutuhkan sumber daya alam seperti udara, air bersih, lahan serta energi. Semua kebutuhan manusia itu sebenarnya telah disediakan oleh Tuhan yang maha pengasih secara cuma-cuma dan bukan untuk diperdagangkan lagi oleh sesama manusia. Manusia seharusnya saling bahu membahu mengelola sumber daya tersebut demi mencapai kesejahteraan bersama. Sumber daya alam bumi ini sangat melimpah, dan teknologi seharusnya dapat menjembatani kebutuhan manusia terhadap sumber daya alam dan energi, dengan cara yang mensejahterakan dan bukan untuk kepentingan meraup keuntungan segolongan manusia semata.

Nikola Tesla dan Listrik Gratis

Hal ini lah yang dulu coba di realisasikan oleh seorang jenius bernama Nikola Tesla. Nama Tesla mungkin tidak sesanter Thomas A Edison. Namun tahukah anda, bahwa Tesla lah yang ada di balik ketenaran Edison dan beberapa penemu lainnya? Nikola Tesla pernah berencana membuat listrik gratis untuk seluruh umat manusia. Baginya, listrik itu tidak berbahaya seperti dogma yang saat ini kita pahami. Tesla memanfaatkan dana seorang Elite Global bernama JP Morgan untuk mewujudkan mimpinya itu.

Alih-alih mendukung niat meraup keuntungan global sang bos, Tesla justru memanfaatkan dana Morgan untuk membangun Wanderclyffe Tower, yakni sebuah menara besar dengan sistem wireless (tanpa kabel) untuk menhantarkan listrik kerumah rumah-rumah penduduk secara gratis. Ketika ide ini tercium oleh JP Morgan, sang bos sangat marah dan dengan ketamakannya akan uang, tower wireless yang telah dibangun Tesla tersebut di hancurkan.

Dari sini lah nama Tesla akhirya dikucilkan dan di hapus dari buku-buku sekolah sebagai seorang penemu terjenius yang pernah hidup di muka bumi. Jelas ini adalah komspirasi. Andai saja Wanderclyffe Tower saat itu di kembangkan, maka saat ini seharusnya kita tidak perlu bayar listrik, tidak perlu beli pulsa, dan tidak perlu membayar teknologi terlalu mahal hingga membebani kehidupan kita. Pastinya peradaban kita akan jauh lebih maju dari pada apa yang telah kita dapatkan sampai dengan hari ini.

Djoko Suprapto dan Blue Energy

Beberapa kasus serupa juga pernah terjadi di Indonesia, misalnya seorang lelaki asal Nganjuk, Jawa Timur bernama Djoko Suprapto (Djoko) lulusan Fakultas Tekhnik Elektro Universitas Gajah Mada Yogjakarta, menemukan metode penggunaan Air sebagai bahan bakar (blue energy).Secara resmi ia memang belum pernah mempublikasikan temuannya, namun menurut Bupati nganjuk, Desember 2007 ia pernah dijemput oleh utusan presiden (SBY) untuk menghadiri konferensi dunia terkait dengan Global Warming di forum United Nation Framework Conference on Climate Change (UNFCCC). Saat itu blue energy di coba untuk menjadi BBM pengantaran tim Jakarta menuju Bali hingga sampai di forum konferensi.

Namun pasca acara tersebut, DJoko di kabarkan hilang, kedua rumahnya tidak lagi di diami. Menurut info yang kami dapat, 23 Mei 2008 Djoko pernah mengirimkan secarik kertas kepada kerabat dan penjaga rumahnya. Surat itu ditujukan kepada para wartawan yang selalu datang mencari DJoko. Dalam surat itu Djoko meminta maaf karena tidak bisa menemui wartawan.

Namun akhirnya Djoko sudah kembali kerumahnya. Menurut detik.com, ia ditemukan aparat saat di rawat di RS Madiun karena sakit jantung. Namun pasca kepulangannya ia justru diberondong oleh isu penipuan, terkait dengan blue energy dan pembangkit listrik temuannya, hingga ke aslian status alumninya. Apakah ini konspirasi? Anda saja yang putuskan!

Kesimpulannya, akan menjadi lebih baik jika sistem ekonomi berbasis moneter digantikan dengan sistem ekonomi berbasis sumber daya. Jika sistem ini di terapkan, maka dalam memperoleh barang atau jasa, kita tidak lagi memerlukan uang, barter, atau perbudakan dalam bentuk apapun. Pendidikan dan sumber daya tersedia tanpa di labeli harga. Dimasa depan, sistem ekonomi berbasis sumber daya akan dapat membuat seseorang hidup lebih baik dari pada orang paling kaya di masa sekarang.

Mungkinkah sistem ekonomi berbasis sumber daya alam di terapkan dalam kehidupan? kami harus optimis jawabannya “Ya”. Namun Adakah yang telah mencoba mewujudkanya ? Berikut beberapa yang kami temukan :

The Venus Project, Venus, Florida, Amerika Serikat

Pada tahun 1995 seorang warga Amerika serikat yang bernama Jacque Fresco mendirikan korporasi yang bernama The Venus Project untuk mendukung terciptanya sistem ekonomi berbasis sumber daya. Konsep dari The Venus Project antara lain pembangunan berkelanjutan, manajemen sumber daya alam, energi efisien serta otomatisasi dalam membangun dunia. Project ini coba mendesain ulang peradaban manusia secara totalitas untuk mengatasi permasalah yang kerap di timbulkan oleh sistem berbasis moneter seperti kriminalitas, pengangguran, populasi berlebih, kerusakan ekosistem dll. Teknologi, umat manusia dan alam harus dapat berdampingan dan saling support menuju arah yang positif.

The Venus Project di implementasikan di sebuah pusat penelitian seluas 21,5 hektar yang berlokasi di Venus, Florida, Amerika Serikat. Mereka mengembangkan penelitian sistem hidup ini dengan memegang teguh pemahaman bahwa sumber daya alam dan energi merupakan warisan bersama bagi semua umat manusia di dunia.

Mahad Al Zaytun, Indramayu, Jawa Barat, Indonesia

Mahad Al Zaytun adalah sebuah Ponpes yang dibangun oleh Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) yang memulai pembangunannya tahun 1996 dan beroperasi di tahun 1999. Pada tahun 2005 Washington Times menyebut pesantren ini merupakan yang terbesar se-Asia (berdiri dilahan seluas lebih dari 1200 hektar). Pada tahun 2011, tercatat ada 7000 Santri yang menimba ilmu disana, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Salah satu yang membuat pesantren ini menjadi berbeda adalah sistem ekonominya yang tidak bergantung penuh terhadap basis moneter. Al Zaytun melakukan pendekatan secara bertahap menuju sistem ekonomi berbasis sumber daya dengan lahan seluas 1200 hektar sebagai sarananya. Program pertanian, perikanan dan peternakan menjadi andalan untuk menghidupi seluruh civitas kampus.

Berbagai teknologi diteliti, dipelajari dan di terapkan sebagai wujud mensyukuri alam sebagai warisan ilahi. Diantara yang berhasil dikembangkan adalah teknologi kultur jaringan, pembibitan dan pemuliaan tanaman, transfer embrio dan inseminasi buatan, teknologi pemerahan susu, pasteurisasi pengolahan susu, pembuatan pupuk dari daun, kotoran hewan dan manusia (termasuk urin manusia), teknologi bokasi-kascing dalam pembuatan pupuk serta pembuatan seilase dan masih banyak lagi. Meski masih memungut biaya kepada para santri, namun biaya tersebut terbilang sangat murah (hanya untuk biaya hidup santri) dan ponpes mengratiskan biaya spp karena mampu mem back up anggaran tersebut dari hasil pertanian dan peternakan.

Alam Pada Dasarnya Ramah

Pimpinan ponpes yakni Syaykh Al-Zaytun Dr. Abdussalam Panji Gumilang berpendapat bahwa alam itu pada dasarnya ramah, jika kita juga ramah terhadap alam. Lahan tandus seluas tempat ponpes berdiri saat ini telah di sulap menjadi lahan yang sangat subur, dengan berbagai jenis tanaman lokal dan luar negeri dengan sistem pengairan yang melimpah. Semua yang ada adalah Rahmatan lil ‘alamin dan patut untuk di syukuri untuk kepentingan manusia seutuhnya.

Bicara soal energi, Al-Zaytun juga melakukan beberapa penelitian seperti berencana menjadikan sorgum sebagai biofuel. Bahkan dalam waktu dekat mereka juga berencana mengurangi ketergantungan listrik dari pasokan PLN. Keputusan untuk merintis jalan menuju mandiri listrik ini berlatar belakang akan kebutuhan energi listrik mereka yang sangat besar, dan Al Zaytun adalah institusi pendidikan pembayar listrik terbesar se Indramayu. Energi tabarukan menjadi misi mereka selanjutnya, yakni sumber energi yang berasal dari proses alam dan berkelanjutan untuk kesejahteraan umat manusia.

Kami berharap, para pelaku pengembang sistem ekonomi berbasis sumber daya alam dan energi senantiasa di lindungi dari sepak terjang sang Dajjal, dilancarkan misi nya dan di ridhoi oleh-Nya. Sehingga di masadepan, kehidupan sejahtera dengan berbudaya toleransi serta perdamaian dapat terwujud dimuka bumi.


Artikel Menarik Lainnya :



One thought on “Pernah Dengar Sistem Ekonomi Berbasis Sumber Daya Alam?

  1. Intinya kebanyakan kita mau dapat duit tanpa kerja keras,, tidak mau peduli akan anak cucu kita dibelakang hari,, apalagi anak cucu orang lain,, mana mau dipeduli,, padahal kelangsungan hidup keturunan kita mau tidak mau dari apa yg kita kerjakan sebelumnya,, kadang kl difikir terlalu baxk ketidak adilan ingin lari aja ke MARS wkwkwkw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *