Beli Buku Flat Earth Bumi Datar

Kitab Suci VS Sains Modern

Kitab Suci VS Sains Modern

Umat beragama didunia meyakini bahwa kitab suci adalah tuntunan mereka yang tidak akan pernah dimakan waktu, tidak ketinggalan jaman dan justru berlaku sepanjang jaman. Namun belakangan ini, beredar pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa kitab suci tidak bisa dijadikan landasan untuk menjelaskan fakta alam semesta. Beberapa pemuka agama bahkan mengatakan tidak tepat menjadikan kitab suci sebagai dalil untuk menentukan mekanisme alam semesta, dan cenderung mempercayai dogma sains modern seutuhnya.

Sebagai umat beragama, kami tidak sejalan dengan pendapat-pendapat tersebut. Pada hakikatnya, Tuhan memiliki sifat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bentuk Kasih Sayang itu Ia tuangkan lewat kesempurnaan petunjuk yang ada di dalam kitab suci, baik tersurat maupun tersirat. Bentuk kita meyakini Nya adalah dengan meyakini perkataan kitab suci sepenuhnya. Bagi kami tidak boleh ada keraguan akan tiap penjelasan di dalamnya.

Oleh karena itu, kami meyakini bahwa apa yang dipaparkan dalam kitab suci adalah sebuah kebenaran mutlak dari Nya untuk kita (manusia yang ber Tuhan). Kitab suci adalah sumber penjelasan yang paling krediblel dibandingkan dengan sehebat-hebatnya manusia menelah dan meneliti misteri penciptaan alam semesta dan mekanismenya.

Kitab suci juga akan menentukan batasan-batasan sampai mana kiranya manusia mampu dan pantas menelusuri, hingga manusia tersebut tetap berada dalam frame nilai-nilai Ilahiah yang justru kian mendekatkan diri manusia tersebut kepada Nya. Oleh karena itu kami menilai bahwa sangatlah tepat bila kita menjadikan kitab suci sebagai dalil dalam menjelaskan awal penciptaan serta mekanisme alam semesta ini, kecuali jika anda tidak percaya degan keberadaan dan petunjuk Nya.

Berikut beberapa perbedaan pandangan antara Kitab Suci VS Sains Modern yang bisa kami rangkum untuk anda:

Penciptaan Alam Semesta

Sejak 500 tahun silam, ilmuan sains modern telah membuat teori penciptaan alam semesta dan mekanismenya yang bertetangan dengan kitab suci. Sains modern mengatakan bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini diawali dari kebetulan kosmik (Big Bang Theory). Bumi hanya digambarkan sebagai debu dari kemegahan angkasa yang tak berujung (Galaksi).

teori-big-bang

Kondisi ini seolah menggambarkan tidak pentingnya peran manusia dimata Tuhan. Secara tersirat, dogma ini berusaha menanamkan bahwa manusia bukanlah mahluk spesial ciptaan Nya. Oleh karenanya, percaya kepada Tuhan yang tak kasat mata adalah hal yang tidak ilmiah dan tidak logis. Sementara itu, kitab suci umat beragama mengatakan hal yang berbeda :

Al Qur’an, Surat Al-Baqarah Ayat 117 :
“Allah pencipta Langit dan Bumi. Apa bila ia hendak menetapkan sesuatu, dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” maka jadilah sesuatu itu”

Injil Perjanjian Lama, Kejadian Pasal 1 :
“Pada mulanya Allah menciptakan Langit dan Bumi”

Semesta ini memang sengaja diciptakan oleh Tuhan, ditata dan disempurnakan oleh Nya sebelum Ia menaruh berbagai spesies mahluk hidup yang nantinya menjadi aktor-aktor kehidupan ciptaanya tersebut. Manusia adalah mahluk spesial. Bulan, matahari, bintang (alam semesta) ditakdirkan untuk tunduk oleh manusia.

Al Qur’an, Surat An-Nahl ayat 12 :
“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)

Mekanisme Alam Semesta

Perlu diketahui, bahwa pemahaman mekanisme sains modern yang menyatakan matahari sebagai pusat alam semesta (Heliosentris), merupakan teori yang diklaim oleh seorang manusia pagan penyembah matahari bernama Martianus Capella.

heliosentrik model

Oleh karenanya dogma Heliosentris sangat kental dalam meng-egosentriskan matahari. Matahari super besar, super jauh dan merupakan pusat orbit benda langit (seolah semua tunduk dengan matahari), dan hal ini jelas bertantangan dengan kitab suci umat beragama.

Al Qur’an, Surat Fussilat Ayat 37 :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah

Sains modern mendogmakan bahwa matahari adalah pusat alam semesta. Benda-benda angkasa lain termasuk bumi dan bulan mengorbit terhadap matahari. Mayoritas populasi manusia dibumi telah percaya akan dogma tersebut. Bumi diklaim berbentuk bola dan berotasi dengan kecepatan yang hampir menyamai suara, yakni 1.674,4 km/jam. Tidak hanya itu Bumi juga diklaim berevolusi terhadap matahari dengan kecepatan 107.000 km/jam. Dan ini bertentangan dengan pemaparan yang ada pada kitab suci umat beragama, dimana sejatinya bumi itu diam, dan seluruh benda penerang langit berevolusi terhadap bumi :

Al Qur’an Surat Ibrahim: 33
Dan Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar; dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.

Al Qur’an Surat Yasin ayat 38 :
dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Al Qur’an Surat Yasin: 40
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Surga dan Neraka

Saintis Global seperti Bill Nye, Neil Degrasse Tyson, Stephen Hawking, dll, tidak pernah menganggap Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Mereka juga termasuk dalam kelompok manusia yang tidak percaya akan adanya hari kebangkitan dan tidak percaya akan adanya kehidupan setelah kematian (Surga & Neraka). Sikap mereka ini jelas bertentangan dengan apa yang kitab suci katakan, berikut dua diantaranya :

Kitab Vasettha (Budha)
Ketika alam semesta mulai mengembang, alam yang telah ada barulah alam surga

Al Qur’an, Surat Al Hasyr : 20
Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung

Penciptaan Manusia

Ilmuan sains modern seperti Ernst Haeckel dan Charles Darwin menggambarkan bahwa manusia tidak secara khusus diciptakan oleh Tuhan.

teori evolusi Ernst Haeckel

Manusia diklaim sebagai hasil perkembangan mikro organisme selama jutaan tahun, dimana mikro organisme ini berkembang dari waktu ke waktu (ber-evolusi) hingga menjadi tahapan beberapa spesies, termasuk manusia. Dan kembali, hal ini bertentangan dengan apa yang kitab suci umat beragama katakan.

Al Hijr ayat 26 :
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk

Injil BAB kejadian ayat 27
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka

Silahkan anda renungkan! Gunakan pendengaran, pengelihatan dan hati yang telah di berikan kepada Tuhan untuk Anda. Kemudian simpulkan dan tentukan mana yang menurut anda lebih kredibel! Perkataan Tuhan yang selama ini tidak masuk ke dalam kurikulum pelajaran di sekolah kah? atau Anda justru lebih memilih percaya dengan perkataan manusia penyembah matahari, penyembah selain Tuhan, penganut atheis, dikarenakan teori mereka telah di ACC oleh lembaga pengesah kurikulum dunia ?

Salam People Power


Artikel Menarik Lainnya :



4 thoughts on “Kitab Suci VS Sains Modern

  1. Itulah salah satu tanda akhir zaman yang diberitakan oleh kitab suci Al Quran dimana ilmu diangkat setinggi-tingginya oleh Allah dengan cara mewafatkan sebagian para ulama dan pemuka agama yang memegang teguh kitab sucinya.

    Sehingga kezaliman, kebodohan dan kebohongan akan tampak dimana-mana dan hampir semua manusia tidak mempercayai kebenaran kitab suci dimana kitab suci adalah Petunjuk kebenaran dari Allah.

    Salah satunya adalah mempercayai dogma sains modern yang bertentangan dengan ajaran kitab suci.

    Manusia akhir zaman cenderung kehilangan rasio akal, nalar, dan hati nurani karena material menggantikan agama.

    Hanya sebagian kecil manusia yang bisa mengerti, menelaah, menghayati kebenaran mengenai bentuk alam semesta dan ciptaaNya dari petunjuk kitab suci.

    Dalam ajaran Budha hidup ini adalah ilusi dimana: “kosong adalah berisi dan berisi adalah kosong”.

    Jadi kalau manusia terjebak oleh ilusi sains modern maka yang terjadi adalah berisi tapi kosong dimana berisi ilmu pengetahuan yang tinggi namun kosong hati, pikiran, akal mengenai penciptaan alam semesta.

    Dan kosong adalah berisi merupakan realitas kesadaran bahwa dengan pikiran, hati, akal yang kosong maka manusia bisa mengerti mengenai penciptaan semesta ini.

    Mengosongkan hati, pikiran, akal adalah lewat semedi, berdzikir, meditasi, bertapa, dll dengan selalu mengingat Allah setiap nafas dan detak jantung dan membayangkan bentuk alam semesta ini yang berwarna-warni indah dan mempunyai getaran yang Maha dahsyat.

    Dan hal ini dijelaskan dalam Fisika Quantum.

    Jadi perlu diralat oleh admin tidak semua sains modern ini bertentangan dengan kitab suci.

    Salah satunya Fisika Quantum bisa menjelaskan mengenai alam semesta, dimana ilmu sains ini lebih condong ke metafisika.

    Udara ini berwarna-warni, dunia manusia terbentuk 3 dimensi dan dimensi tertinggi alam semesta ini merupakan dimensi ke-9.

    Dimensi bertingkat dari dimensi manusia dimulai 3,4,5,6,7,8,9

    Dimensi yang bawah tidak bisa melihat dimensi yang atas karena ghaib.

    Ghaib dijelaskan oleh kitab suci.

    Dimensi jin ada di dimensi ke-4 alam semesta sehingga manusia yang ada di dimensi ke-3 tidak bisa melihat dunia jin.

    Tapi jin bisa melihat dunia kita karena dimensi bawah, kecuali bagi manusia yang diberi petunjuk oleh Allah.

    Energi alam semesta ada Yin dan Yang bisa diartikan positif dan negatif, siang dan malam.

    Siang dan malam dijelaskan oleh kitab suci.

    Dari pengalaman kebatinan tersebut maka bisa ditelaah bahwa bumi ini diam tidak bergerak sedikitpun, matahari, bulan, bintang memang beredar mengelilingi bumi.

    Bumi ini datar dan waktu berputar ke arah kanan seperti jam sehingga ada masa awal dan ada masa akhir dan sudah dijelaskan oleh kitab suci agama dimanapun.

    Jadi sains dan agama tidak boleh terpisahkan dan tidak boleh bertentangan satu sama lainnya.

    “Sains tanpa agama adalah buta”.

    “Agama tanpa sains adalah lumpuh atau bodoh”

    Apa yang disebutkan kitab suci memang benar adanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *